Batu Hitam (Hajar Aswad) yang mempesona ini, yang dituju, yang dicium, yang disentuh oleh jutaan Muslimin ini, telah melewati berbagai periode dan secara singkat bisa digambarkan sebagai berikut:

  • 1850-1820 SM: Nabi Ibrahim meletakkan Hajar Aswad di Ka'bah, ketika membangun Ka'bah.
  • 400 M: Amr bin Harits bin Madhadh al-Jurhum memasukkan ke dalam sumur Zamzam.
  • 400 M: Qushay bin Kilab (kakek Rasul SAW yang kelima) meletakkan kembali ke tempatnya di Ka'bah.
  • 606 M, terjadi kerusakan pada Ka'bah akibat banjir, dan Nabi Saw (Nabi saat itu belum diangkat menjadi Nabi) meletakan di  tempat  yang  ada  sekarang setelah terjadi perdebatan antarkabilah Quraisy.
  • 180-an H, Abdullah bin Zubair memasang lingkaran pita perak di sekeliling Hajar Aswad.
  • 7 Zulhijah 317 H: Abu Tahir Al Qarmuthi mencopot Hajar Aswad.
  • 10 Dzulhijjah 339 H, Hajar Aswad berhasil dikembalikan ke tempatnya.
  •  363 H, Hajar Aswad dipukul oleh seorang laki-laki dari Romawi, namtm ia tidak berhasil membawanya.
  • 413 H, seorang laki-laki dari Bani Fatimiyyah, memecahkan Hajar Aswad.
  • 990 H, seorang laki-laki asing memukul Hajar Aswad.
  • 1268 H, Sultan Abdul Majid mengganti lingkaran perak dengan emas.
  • 1293 H,  Sultan Abdul Aziz mengganti lingkaran emas dengan perak.
  • Muharram  1351  H,  seorang laki-laki  dari Afghanistan mencungkil pecahan Hajar Aswad dan mencuri potongan kain Kiswah Ka'bah.
  • 28  Rabiul Akhir  1351  H,  Raja Abdul Aziz bin Abdur Rahman  As-Saud  merekatkan  kembali  Hajar Aswad yang telah pe cah dan memberinya lingkaran perak di sekelilingnya.


Batu Hitam yang Mulia

Hajar Aswad yang bermakna batu hitam adalah sebuah batu yang sangat dimuliakan. Ia merupakan jenis batu ruby, yang berasal dari Surga. Sebagian besar umat Islam, terutama yang menunaikan ibadah haji, berusaha menciumnya, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw.

Umar bin Khattab ra pernah berujar ketika berada di hadapan Hajar Aswad:

“Demi Allah, aku tahu bahwa kamu hanya sebongkah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Saw menciummu (Hajar Aswad —Red), niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Muslim).

 

Tentang Hajar Aswad

Batu hitam ini berukuran sekitar 10 sentimeter (cm) dengan luas lingkaran pita peraknya sekitar 30 cm. Tingginya dari lantai dasar Masjid al-Haram sekitar 1,5 meter. Hajar Aswad sendiri pernah dipecahkan menjadi 8 pecahan dengan ukuran kecil-kecil.

Ketika Salman Al-Farisi ra tengah berada di antara Zam-zam dan Maqam (tempat berpijak) Ibrahim, dia melihat orang-orang berdesakan di sekitar Hajar Aswad. Lalu dia bertanya kepada kawan-kawannya, "Tahukah kalian, apakah ini?"

Mereka menjawab  "Ya, ini adalah Hajar Aswad." Dia meneruskan, “ "la berasal dari batu-batu surga. Dan demi Tuhan yang menggenggamku, ia akan dibangkitkan kelak dengan memiliki sepasang mata, satu lisan, dan dua buah bibir, untuk memberikan kesaksian bagi orang-orang yang pernah menyentuhnya secara hak (benar).”

 

Bukan Batu Meteor

Sebagaimana diterangkan   dalam   sejumlah  hadis  dari  berbagai  perawi  hadis  tepercaya,  Hajar Aswad  adalah sebuah batu mulai yang berasal dari surga. Saat pertama kali diturunkan, batu ini berwarna putih susu. Namun, karena dosa-dosa manusia hingga ia menjadi hitam (aswad). Dengan banyaknya riwayat yang menyebutkan Hajar Aswad berasal dari surga, banyak pihak yang penasaran dengan hal tersebut. Ada yang berusaha mencurinya. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa Hajar Aswad adalah batu meteor. Dan tentu saja anggapan ini berbeda dengan keterangan beberapa hadist, bahwa Hajar Aswad berasal dari batu surga.

Begitu pula mengenai cara sampainya di bumi, ada beberapa pendapat yang berbeda. Ada yang menyebutkan bahwa batu ini dibawa oleh malaikat Jibril atas perintah Allah ke bumi. Ada pula yang menyebutkan, bahwa batu ini dibawa Nabi Adam as dari surga ketika ia diturunkan ke Bumi. Pendapat ini disampaikan oleh pakar tafsir terkenal, Ibnu Katsir dalam bukunya Qishahul Anbiya (kisah-kisah para Nabi)