Penelitian Hajar Aswad

Seorang ilmuwan Mesir, Prof. Dr Zaghlul an-Najjar pernah menyapaikan sebuah wacana agar Hajar Aswad diambil sampelnya untuk diteliti lebih lanjut untuk membuktikan bahwa Hajar Aswad itu bukan sebuah meteor, namun batu dari surga seperti yang pernah di terangkan oleh Nabi Saw. Dan pengambilan sample ini, menurutnya tidak akan merusak Hajar Aswad itu sendiri. Namun sampai saat ini wacana tersebut tampaknya tidak mendapat dukungan dari pihak terkait.

 

Hadist-Hadist tentang Hajar Aswad

Dari Humaid ibn Abi Sawiyyah ra, bahwa ia pernah mendengar bahwa Ibn Hisyam pernah bertanya kepada Atho ibn Abi Ribbah ra (seorang tabi’in) ketika Atho sedang tawaf di Baitullah. Atho kemudian meriwayatkan bahwa  Abu Hurairah ra mengatakan, “ Bahwasannya Nabi Saw pernah bersabda, “Bahwa di sekitar Hajar Aswad ada 70 malaikat dan jika seseorang (yang sedang tawaf) berdoa,” Ya Allah, aku minta ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat, Ya Allah berilah aku kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkan aku dari siksa api neraka.” Maka para melaikat itu akan meng aminkan nya." Ketika sampai di Hajar Aswad, Ibn Hisyam bertanya kembali, “ Ya Aba Muhammad, apa yang kau ketahui tentang Hajar Aswad ini? Atho menjawab, bahwa Abu Hurairah pernah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw mengatakan,” Barangsiapa yang menyetuhnya, maka sebenarnya ia menyentuh tangan ar-Rohman (tangan Allah).” ( HR. Ibnu Majah. Al-Mundziri mengatakan bahwa hadist ini di Hasankan oleh sebagaian ulama hadisDari Abdullah Ibn Umar bahwasanya Rasulullah Saw pernah bersabda, “ Di hari kiamat kelak, akan datang rukun (Hajar Aswad) dalam bentuk yang lebih besar dari gunung Abi Qubaisy. Ia memiliki dua bibir kemudian menceritakan siapa saja yang pernah menyetuhnya dengan niat (karena Allah semata). Ia (Hajar Aswad) adalah Yaminullah (tangan kanan Allah) yang disentuh oleh para hamba-hamba Nya.” (HR. Khuzaimah. Adz-Dzahabi melemahakan hadist ini karena ada seorang rawi, yaitu Abdullah Ibn Muamil yang dianggap lemah. Al-Baihaqi pun melemahkan hadist ini. Namun tentang kelemahan Abdullah Ibn Muamil ini ditentang oleh pakar hadist lainnya karena Ibn Hibban menganggap nya seorang tsiqot (bisa dipercaya). Begitu pula pandangan Ibn Hajar yang menyebutkan bahwa meskipun rowi termasuk yang suka menafsirkan hadist, namun jika ada hadist lain yang menguatkannya maka hadist ini termasuk hadist Hasan sebagaimana pandangan Imam Tirmidzi.” Dengan demikian hadist diatas tidak termasuk hadist dhoif karena ada hadist yang menguatkan hadist ini, yaitu dari riwayat Humaid Ibn Abi Sawiyyah (hadist pertama diatas

“Rukun itu (Hajar Aswad) dan Maqam (tempat berpijak Nabi Ibrahim) adalah batu Yaqut dari bebatuan surga. Dan jika tidak disentuh (oleh) dosa-dosa manusia, maka pastilah akan terang dunia ini (karena cahaya Hajar Aswad). Dan orang sakit yang menyetuhnya pastilah akann sembuh.”  (HR. Baihaqi. Imam Nawawi dalam al-Majmu mengatakan bahwa sanad nya Sahih)

 

Ust. Ackmanz Lc.

Sumber bacaan:

Fadlu Hajar Aswad Wa Maqom Ibrohim, Said Bakdasy, Syirkah Dar Basyar Al-Islamiiyah: beirut, Cet. ke-6 1436 H