عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  يَقُولُ : إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى  فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوُله  وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا  أَو امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا  فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Dari amirul mukminin Abu hafsah Umar bin al-Khatab berkata, saya mendengar Rasulullah J bersabda, Sesungguhnya amal itu (sangat) tergantung kepada niat dan sesungguhnya bagi seseorang (pahalanya itu) tergantung dari niatnya. Barang siapa yang hijrahnya (hanya) karena Allah dan rasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Dan barang siapa yang hijrahnya (hanya) untuk meperoleh dunia semata atau untuk wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan mendapatkan (apa yang ditujunya).” (HR. Bukhari Muslim)

 

Biographi Rawi

  • Amirul muminin Umar bin Khaththab al-Quraisyi ’Adawi Abu Hafsh adalah khalifah kedua, orang kepercayaan Quraisy di masa jahiliyah. Umar adalah orang yang sangat memusuhi da’wah dan kaum muslimin di awal kenabian Rasulullah  kemudian ia masuk Islam. Abdullah ibnu Mas’ud berkata: “Kami tidak melakukan shalat di Ka’bah sampai Umar masuk Islam.”
  • Umar masuk Islam setelah 40 orang laki-laki dan 11 orang wanita masuk Islam tahun ke-6 kenabian. Umar sendiri mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah.
  • Umar dibai’at (disumpah) menjadi khalifah di hari wafatnya khalifah Abu Bakar Shiddiq tahun 13 H – 634 M. Dalam masa kepemimpinannya, Umar merebut Kota Quds di Syam (Suriah), Madain (Irak:Persia), Mesir dan seluruh Jazirah Arab.  Umar wafat setelah ditikam oleh Abu Lu`luah al-Majusi ketika shalat Subuh tahun 23 H- 644 M.

 

Pelajaran Dalam Hadits

  1. Amal perbuatan dibagi dalam tiga macam, yaitu:

      A, Amal Qalbiyah (perbuatan hati): Yaitu perbuatan yang bertempat dalam hati misalnya: tawakkal, tawadhu (rendah hati), sabar, qana’ah (merasa cukup apa yang diberikan Allah), ikhlas, haya (malu untuk berbuat dosa), ridha (rela menerima ketentuan Allah), syukur, marah, iri dengki, hasad, rakus, tamak dll

      B. Amal Nuthqiyyah (perbuatan lisan): Yaitu perbuatan yang dilakukan oleh mulut misalnya: tilawah al-Qur’an, berkata baik, memberi nasihat, berdoa, berbohong, mengunjing dll

      C. Amal Jawarih (perbuatan raga): Yaitu aktifitas yang dilakukan oleh gerak badan seperti shalat, makan, mandi dll

2. Niat itu harus sengaja harus dihadirkan (didatangkan: dibenamkan) dalam hati atau menguatkan sebuah keinginan, motivasi yang sudah ada dengan yang lebih kuat lagi. Dan bukan disebut niat jika hanya terlintas di hati sesaat.

 Niat menurut arti kata berarti: (القَصْدُ) yaitu menyegaja atau bermaksud berbuat sesuatu. Sedangkan menurut istilah syara (Islam) adalah:

 قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَنًا بِفَعْلِهِ

“Menyegaja dalam hati (menghadirkan motivasi dalam hati) ketika hendak melaksanakan pekerjaan itu kemudian dibarengi dengan perbuatan itu.”[1]

 

Dari istilah diatas bahwa niat tempatnya di hati, artinya jika seseorang mengatakan, Saya beri uang untuk anak yatim ini sekarang.” namun dalam hatinya tidak terbesit sama sekali memberi uang, maka ucapanya itu bukan niat. Dan niatpun bukan hanya yang terlitas saja di hati, namun yang dimaksud redaksi hadist diatas adalah mendatangkan, menghadirkan niat karena Allah dan ikhlas pula karena Allah Swt semata.

Misalnya terbesit dalam hati akan memberi uang seorang anak yatim, kemudian dengan sengaja ia datang ke tempat anak itu kemudian dia kuatkan hatinya sambil berbicara dalam hatinya, “Ya Allah aku berikan uang ini untuk anak ini karena Engkau semata, supaya kau membalas perbuatanku ini.” Kemudian dia tidak sama sekali membicarakan apapun pemberiannya kepada orang lain bahkan ke keluarganya sendiri dan hanya Allah yang tahu. Inilah disebut niat dan ikhlas.

  1. Niat itu harus dalam hati dan bukan yang terucap karena batinlah penentu dari buah yang akan dipetik ketika melakukan amal soleh. Jika seseorang mengucapkan sebuah rencana kemudian melaksanakan apa yang ia kehendaki tentulah tidak akan berbuah pahala jika hatinya tidak untuk Allah semata.
  2. Semua amal kebajikan baik yang berupa lahiriyah, jiwa, maupun lisan tergantung dari yang diniatkannya dan ia akan mendapat pahala dari Allah jika memang diniatkan untuk Allah. Jika kebajikan itu diniatkan untuk selain Allah, untuk kemanusiaan misalnya, maka hasilnya ia peroleh untuk kesejahteraan manusia namun tidak mendapat pahala dari Allah karena memang tidak diniatkan untuk Allah.
  3. Baik atau buruknya niat seseorang akan berpengaruh baik atau rusaknya sebuah amal.
  4. Menghadirkan niat di hati atau memotivasi sesuatu yang akan dilakukan untuk memperoleh pahala harus terwujud dalam batin seseorang untuk membedakan antara kebiasaan (adat) dengan pekerjaan yang ditujukan kepada Allah. Misalnya rutinitas makan dan minum dalam kesehariaan tentu saja hal ini hanya menghasilkan energi, namun tidak akan berpahala. Beda jika makan minum itu mendatangkan niat untuk menunjang aktifitas ibadah tentu saja berpahala disisi Allah. Tampak jelas dua perbuatan yang sama namun ada peberdaan dilihat dari pahalanya. Sebuah syair menyebutkan:

 

عِبَادَةُ أَهْلِ الغَفْلَةِ عَادَاتٌ  #  وَعَادَاتُ اليَقْضَةِ  عِبَادَاتٌ

“Ibadahnya orang lalai adalah adat (kebiasaan). Kebiasaan orang yang selalu berniat adalah ibadah.”

 

  Maksudnya orang yang melakukan ibadah sebagai rutinitas tapi tidak niat maka disebut orang yang lalai alias tidak berarti apapun. Sedangkan orang yang selalu ingat (ahli ibadah) adalah yang selalu berniat untuk Allah sekecil apapun dan kapanpun waktunya.

 

  1. Semakin banyak niat karena Allah, semakin banyak pula pahala dari Allah.
  2. Ketika niat diharuskan dalam setiap akktifitas apapun, disitu pula niat harus diirngi dengan ikhlas dalam bentuk apapun. Dengan demikian antara niat karena Allah dan Ikhlas karena Allah tidak dapat dipisahkan.

 

Pandangan Salafus Salih Tentang Ikhlas

  1. Sebagian orang salaf berkata, “Orang ikhlas itu akan menyembunyikan perbuatan baik seperti ia menyembunyikan perbuatan buruknya.”
  2. Yusuf bin Husain berkata, “Tidak ada satupun yang lebih mulia di dunia ini dari pada ikhlas, dan sering kali aku ingin melenyapkan ria dalam hati, namun tetap saja (riya) itu tumbuh lagi meskipun dalam bentuk lainnya.”
  3. Makhul berkata, “Jika seseorang mampu menumbuhkan rasa ikhlas saja selama 40 hari saja, pasti akan tumbuh hikmah dari hati dan mulutnya.”
  4. Ibnu Qayyim pernah berkata, “Perbuatan baik yang tidak diiringi oleh keikhlasan maka ia tidak bermanfaat, seperti seorang pengelana yang berbekal air minum dan berjalan jauh dengan rasa letih dan penat namun tidak bermanfaat akhirnya.”
  5. Ar-Rabi’i hanya terlihat shalat sunnat sekali saja di dalam masjid (ia banyak melakukan shalat sunnat di rumah karena takut ria).
  6. Ketika Abdurahman ibn Laila sedang shalat, tiba-tiba datang seseorang, ia cepat-cepat tidur (agar tidak dikeatahui bahwa ia sedang shalat).

 Ust. Ackman Lc

[1] Dr. Mustapha Sa’id Khin & Teman-teman, Nuzhat al-Muttaqin Syarh Riyadh as-Salihin, (Beirut, Muasasah ar-Risalah, 2001), hal. 20. Dalam buku-buku Fikih di berbagai mahdzab pengertian ini hampir dianggap umum seperti yang terdapat dalam buku-bukuh fikih Imam Syafi’i seperti Syarh Muhadzab oleh Nawawy.

  Pengertian niat menurut Dr. Wahbah Zuhaili tampaknya dapat mendamaikan pengertian yang berbeda yaitu disunnahkan dibarengi dengan melakukan perbuatan yang dimaksud. Lihat Dr. Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islamy wa Adillatuhu, (Beirut, Dar al-Fikir, 1989), hal. 216/I