اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, ikuti keburukan dengan kebaikan niscaya (keburukan itu) dapat menghapusnya dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Turmudzi. Hadist hasan)

 

Penjelasan Hadist

Setiap kebaikan dapat menghapus maksiat meskipun tidak dengan cara taubat dan keburukan ini jika termasuk kategori dosa kecil[1] dan bukan pula dosa yang berhubungan antara manusia.[2] Keterangan yang menunjukan hal ini adalah sabda Nabi J tentang seseorang yang bertanya kepada Nabi bahwa ia telah bersenang-senang dengan seorang wanita tapi tidak berzina. Kemudian Nabi J berfatwa, “Apakah kamu shalat subuh dengan kita?” Lelaki menjawab, “Benar (aku ikut shalat),” Kemudian Nabi  membaca ayat:

 

  إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

 

Ini menunjukan bahwa dosa kecil dapat dihapuskan dengan kebaikan. Sedangkan dosa-dosa besar (Kaba-ir) seperti memarahi orang tua, membunuh dan lainnya diwajibkan taubat sebagaimana disebutkan dalam satu ayat:

 

وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ

 “Dan Sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha: 82)

 

Dan jika dosa itu berhubungan dengan sesama manusia, maka si pelaku harus meminta maaf orang yang disakitinya sedangkan diterima atau tidak maafnya itu sudah bukan urusan orang yang bersangkutan.

 

Pelajaran Dalam Hadist

  1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap Muslim karena takwa merupakan dasar diterimanya amal shalih.
  2. Bersegera melakukan ketaatan atau kebaikan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
  3. Kesungguhan untuk menghias diri dengan akhlak mulia. Salah bentuk akhlak mulia adalah: bersilaturrahmi, tidak berburuk sangka kepada orang lain, muka berseri atau tersenyum ketika bertemu seseorang, menghormati tamu, tidak memarahi orang, tidak meyombongkan kabaikan budi di depan orang, tidak membicarakan ibadahnya yang dianggap hebat atau bagus dll.
  4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat, karena hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.

 

Ust. Ackman Lc

 

[1] Al-Utsaymin, Syarh Arba’in an-Nawawiyah, hal. 163, Al-Wafi, hal. 127

[2] Al-Mu’in fi Tabsith al-Arba’in, hal. 32. Karena jika dosa itu berhubungan antara sesama manusia, yang bersangkutan harus meminta ridha.