Get Adobe Flash player

 

 

Meraba Murka Allah

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu). (QS. Fathir: 28)

Celakaanlah bagi pengumpat dan pencela. (QS. Al-Humazah; 1)

 

Apa Ada Petir Menyambar ?

Gimana kita bisa menebak kemarahan Gusti Allah???? Apa tiba-tiba datang petir menyambar?? Apa tiba-tiba datang angin topan ngerusak rumah kita? Bisa jadi kita merasakan bahwa selama ini kita baik-baik saja, keluarga adem ayem, anak-anak sukses,pekerjaan, lumayan nggak kekurangan apa-apa. Tapi! Gimana kalau kehidupan yang baik-baik saja itu ternyata Allah justeru ngambek!! Alias Murka.  Ataupun begini, kita banyak masalah, hutang disana sini, rumah tangga dalam kategori gawat, pekerjaan nggak karuan dan segala kesulitan lainnya. Namun ternyata justeru Allah tidak marah, bahkan Dia memberi latihan atau istilah cobaan, karena akan diberi kehidupan baik dan bagus nantinya. Jadi kesimpulannya kita tidak akan bisa merasakan atau bahkan tidak akan pernah mengetahui apakah Allah itu marah hatau nggak ama kita??? Karena masalahnya kita sekarang mau buat baik ataupun dosa sekalipun, kayaknya langit sama saja tuh???

 

Gimana Meraba Murka Allah itu…!!!

Jawabannya bermacam-macam, yang pasti orang yang suka baca Al-Qur'an, orang yang giat mencari ilmu agama, orang yang suka mengkaji sekaligus buka-buka terjemah Qur'an, ngaji hadist, atau yang sedang belajar bahasa Arab dsb, itulah yang akan tahu marah atau tidaknya Allah Kok bisa gitu....??? Coba saja ketika seseorang buka baca terjemah Qur'an terus sambil menghayati dan merenung apa yang dibaca, ketika sampai pada ayat:

Jika kamu bersyukur maka Aku akan menambah (nikmat) itu kepadamu. Dan jika kamu ingkar, maka sungguh siksa Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Nah, mulailah hati kita berbicara jujur, apakah kita bersyukur atau tidak? jika selama ini kita tidak pernah bersyukur, alias selalu merasa kurang karena selalu melihat diatas, selalu keluh kesah dengan yang belum di dapat, tapi lupa se abreg kenikmatan yang telah di dapat. Jarang memberi ke anak yatim, orang miskin dsb. Maka di situlah kita tahu bahwa selama ini Allah marah kepada kita.  Tinggal menanti saja saat-saat hukuman Allah.

Atau ketika kita sampai pada ayat:

“Celakaanlah bagi pengumpat dan pencela.”(QS. Al-Humazah:1)

Tiba-tiba kita tersadar, selama ini kita banyak mencela, bisa jadi kita mencela dalam koridor agama. Misalnya....wah kasihan sekali banyak orang Islam kagak bener ibadahnya. Banyak yang nggak bener akidahnya...Wuaaahh orang Muslim itu ibadahnya nya nga ikhlas dsb.

Padahal jelas sekali baginda Nabi Saw pernah wanti-wanti agar menghindarkan mengecam sesama muslim seburuk apapun yang dilakukannya:

“Mencela seorang muslim itu perbuatan fasiq sedangkan memeranginya adalah perbuatan kufur.” (HR.Bukhari Muslim)

“Berbahagialah orang yang sibuk memperhatikan aib dirinya sendiri daripada sibuk memperhatikan aib orang lain.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

Jadi Kesimpulannya Apa..?

Ternyata orang yang belajar Agama, orang yang giat mencari ilmu, itulah yang akan tahu, akan merasakan, atau meraba marah atau tidaknya Allah.

Lah wong saya banyak shalat kok?? Saya udeh banyak zikir kok? Emang betul keduanya sarana mendekatkan diri pada Allah, tapi cobat anya pada hati kita, apa dengan amalan semacam itu saja kita bisa melihat kemarahan Allah.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu).”(QS.Fathir:28)

Ust. Ackman Lc

423393
Amani Tour

Copyright © 2013. All Rights Reserved.