Apa Yang Disebut Badal Haji?

 

Badal Haji artinya melaksanakan Ibadah Haji Di bulan Haji atas nama orang lain, dilakukan oleh muthowif yang amanah (bukan anda yang pergi haji atau umrah). Baik yang dibadalkan itu  bapak yang memberi dana, ibunya, saudara nya atau orang lain karena ada halangan tertentu dari yang digantikan. Baik yang dihajikan itu sudah tua dan tidak memungkinkan berhaji atau sudah meninggal.

BADAL HAJI hukumnya WAJIB dilakukan oleh ahli waris dan dananya diambil dari harta warisan peninggalan yang wafat. Jika tidak dilakukan maka ahli warisnya dosa.Karena ketika wafat si mayit harus dibebasakan 2 (dua) perkara, yaitu hutang kepada sesama manusia dan hutang kepada Allah (Badal Haji)

Dengan syarat bahwa yang menghajikan  HARUS SUDAH MELAKSANAKAN HAJI TERLEBIH DAHULU. Artinya PERNAH BERHAJI UNTUK DIRINYA, dan BUKAN BERBARENGAN BERHAJI SAMBIL MEMBADALKAN HAJI. Karena kalau terjadi BADAL HAJI NYA TIDAK SAH. Dan badal itu hanya dilakukan untuk 1 (satu) orang saja tidak sah bila mem badalkan untuk 2 (dua orang sekaligus)

 

Kenapa Harus Dengan Muthowif ?

Bukankah Lebih Afdhol Oleh Anak atau keluarganya ?

Badal Haji oleh muthowif hanya pilihan saja untuk mengugurkan kewajiban yang di badal hajikan. Dengan pertimbangan masa tunggu keberangkatan Haji Reguler DKI Jakarta sudah 18 tahun. Jadi jika mau menbadalkan orang tua oleh anaknya sendiri,dia harus menunggu 18 tahun untuk berhaji untuk dirinya sendiri, kemudian daftar kembali dan menunggu 18 tahun lagi untuk membadalkan salah satu orang tuanya. Jadi harus menunggu 36 tahun untuk membadalkan salah satu orang tuanya. Atau tambah 18 tahun lagi untuk salah satu orang tuanya lagi.

Sedangkan jika yang wafat itu sudah wajib haji, tidak boleh ditunda di badalnya dan ahli warisnya berdosa.

Atau jalan lain ikut haji ONH plus yang berkisar antara  USD 12.000  (sekitar Rp 180.000.000) sampai USD 16.000 dengan masa tunggu dari 5 sampai 7 tahun.

 

Apa Hukumnya Badal Haji & Dalil-Dalil Badal Haji

Hal ini bisa dilihat dalam 2 keadaan, yaitu: Bila yang dihajikan sudah meninggal, dan semasa hidupnya dia dianggap sudah mampu mengerjakan haji, maka WAJIB menghajikannya bagi ahli warisnya, meskipun si mayit tidak berwasiat untuk menghajikannya. Karena Haji merupakan salah satu rukun Islam yang harus dikerjalan bila sudah mampu secara finansial. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt:

“Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97)

Jika yang  wafat semasa hidupnya tidak di anggap mampu melaksanakan haji karena miskin misalnya, maka di sunahkan untuk keturunanya  menghajikannya. Dan tentunya ini disebut AMAL SOLEH bagi keturunannya.

Dalil-dalil bolehnya menghajikan orang lain, baik yang dihajikan itu sakit (sehingga tidak mampu mengerjakannya) atau yang dihajikan sudah wafat, antara lain:

Wahai Rasulullah ayahku telah wajib Haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan apakah boleh aku melakukan ibadah haji untuknya?" Jawab Rasulullah "Ya, berhajilah untuknya" (HR. Bukhari Muslim).

Hadist ke-2

Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah Saw. Dan bertanya "Wahai Rasulullah!, Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya?. Rasulullah menjawab "Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi" (HR. Bukhari, Nasa'i).

Hadist ke-3

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata "Ayahku meninggal, padahal dipundaknya ada tanggungan haji Islam, apakah aku harus melakukannya untuknya? Rasulullah menjawab "Apakah kalau ayahmu meninggal dan punya tanggungan hutang kamu juga wajib membayarnya ? "Iya" jawabnya. Rasulullah berkata :"Berhajilah untuknya." (HR. Daruquthni)

 

Kalau Begitu Boleh Donk Badal Sholat, Badal Puasa Atau Badal Zakat ?

Tidak bisa Islam adalah agama berdasarkan Dalil bukan menyamakan antara Ibadah dengan ibadah lainnnya. Dalam hadist-hadist sahih hanya menjelaskan terntang Badal haji saja beserta badal Umrah. Ibadah Haji sendiri adalah syariat terakhir sebelum Rasulullah Saw wafat. Dan tidak ada dalil baik di Al-Qur'an, hadist ataupun fatwa ulama selain Badal haji.

 

 Apakah  Badal Haji ini bertentangan Dengan Ayat Al-Qur’an ?

Bahwa amal seseorang tidak bisa memikul ala atau dosa orang lain?

Jawabannya cukup dengan fatwa Syeikh Bin Baz rahimullah, mantan ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia. Beliau berfatwa:

Firman Allah Swt:  “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An Najm: 39).

Ayat ini bukanlah bermakna seseorang tidak mendapatkan manfaat dari amalan atau usaha orang lain. Ulama tafsir dan pakar Qur’an menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah amalan orang lain bukanlah amalan milik kita. Yang jadi milik kita adalah amalan kita sendiri. Adapun jika amalan orang lain diniatkan untuk lainnya sebagai pengganti, maka itu akan bermanfaat. Sebagaimana bermanfaat do’a dan sedekah dari saudara kita (yang diniatkan untuk kita) tatkala kita telah meninggal dunia. Begitu pula jika haji dan puasa sebagai gantian untuk orang lain, maka itu akan bermanfaat.

 

Bagaimana Syarat  Menghajikan Orang Lain?

 

Syarat menghajikan orang lain itu antara lain:

- Yang menghajikan harus sudah pernah berhaji

- Hanya boleh menghajikan untuk 1 orang saja

- Yang dihajikan adalah orang yang sudah wafat, ataupun jika sakit secara medis tidak mampu mengerjakan haji atau tidak bisa diharapkan kesembuhannya (seperti sakit jantung, HIV dll)

 

Bolehkan Saya Membayar Seseorang Untuk menghajikan Orang tua saya ataupun kakek nenek?

Seorang anak Di Wajibkan Menghajikan Orang tuanya yangtelah wafat jika semasa hidupmnya telah wajib haji. Atau orang tuanya yang tidak mampu lagi secara fisik.

Dalam sebuah hadist Rasulullah berkata kepada Abu Razin "Berhajilah untuk ayahmu dan berumrahlah".

Dalam riwayat Jabir dikatakan "Barang siapa menghajikan ayahnya atau ibunya, maka ia telah menggugurkan kewajiban haji keduanya dan ia mendapatkan keutamaan sepuluh haji". Riwayat Ibnu Abbas mengatakan "Barangsiapa melaksanakan haji untuk kedua orang tuanya atau membayar hutangnya, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat nanti bersama orang-orang yang dibebaskan" (Semua hadist riwayat Daruquthni).

 

Berapa Badal Haji & Kemana Harus Membayar Badal Haji?

Harga BADAL HAJI di AMANI TOUR Rp 10.000.000 dan bagi yang berminat silahkan hubungi kami

Ust. Ackman Lc. M.Si