Get Adobe Flash player

 HATI-HATI TENTANG BADAL HAJI

Agar terhindar dari penipuan misalnya karena harga murah  Rp 3 atau 4 jutaan, seorang oknum membadalkan lebih dari 1 orang. Agar keuntungan lebih banyak. Hal ini tidak sah dan bukan disebut badal haji. Karena seseorang hanya boleh membadalkan 1 orang saja. Disebabkan pula yang membayar badal haji hanya mencari harga murah. Padahal yang di badalkan misalnya orang tuanya sendiri.

Badal Haji di AMANI TOUR sebesar Rp 10.000.000/orang dan BADAL UMROH Rp 1.500.000 dan Insya Allah dikerjakan oleh para Mukimin atau para santri yang muqim di kota Mekkah. Yang membadalkan Haji akan mendapatkan sertifikat Badal Haji lengkap dengan  nama orang yang membadalkannya. Bagi yang hendak MEMBADALKAN HAJI silahkan menghubungi kami di HP  0813 1498 0246 ( Ust. Ackman Lc. M.Si)

Apa Yang Disebut Badal Haji?

Badal haji adalah melaksanakan ibadah haji atas nama orang lain, baik bapaknya, ibunya, saudara nya atau orang lain karena ada halangan tertentu dari yang digantikan. Baik yang dihajikan itu sudah tua dan tidak memungkinkan berhaji atau sudah meninggal. Dan yang menghajikannya  lebih baik oleh anak anya sendiri, atau boleh saja oleh orang lain. Dengan syarat yang membadalkan hai itu sudah pernah ber haji. Artinya pernah melaksanakan haji dan bukan berbarengan berhaji untuk dirinya pertama kali sambil membadalakan seseorang. Karen ajika tetap dilakukan badal hajinya tidak sah alias percuma saja.

 

Apa Hukumnya Badal Haji?

Hal ini bisa dilihat dalam 2 keadaan, yaitu: Bila yang dihajikan sudah meninggal, semasa hidupnya dianggap sudah mampu mengerjakan haji,  wajib menghajikannya bagi ahli warisnya, meskipun si mayit tidak berwasiat untuk menghajikannya. Karena Haji merupakan salah satu rukun Islam yang harus dikerjalan bila sudah mampu secara finansial. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt:

“Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]” (QS. Ali Imran: 97)

Adapun dalil-dalil tentang bolehnya menghajikan orang lain, baik yang dihajikan itu sakit (sehingga tidak mampu mengerjakannya) atau yang dihajikan sudah wafat, antara lain:

Wahai Rasulullah ayahku telah wajib Haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan apakah boleh aku melakukan ibadah haji untuknya?" Jawab Rasulullah "Ya, berhajilah untuknya" (HR. Bukhari Muslim).

Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah Saw. Dan bertanya "Wahai Rasulullah!, Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya?. Rasulullah menjawab "Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi" (HR. Bukhari, Nasa'i).

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata "Ayahku meninggal, padahal dipundaknya ada tanggungan haji Islam, apakah aku harus melakukannya untuknya? Rasulullah menjawab "Apakah kalau ayahmu meninggal dan punya tanggungan hutang kamu juga wajib membayarnya ? "Iya" jawabnya. Rasulullah berkata :"Berahjilah untuknya". (HR. Daruquthni)

 

Apakah Tentang Badal Haji ini bertentangan Dengan Ayat Al-Qur’an ? Bahwa amal seseorang tidak bisa memikul ala atau dosa orang lain?

Jawabannya cukup dengan fatwa Kerajaan Saudi alm. Syeikh Bin Baz rahimullah, mantan ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia. Beliau berfatwa:

Adapun firman Allah Swt:  “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An Najm: 39).

Ayat ini bukanlah bermakna seseorang tidak mendapatkan manfaat dari amalan atau usaha orang lain. Ulama tafsir dan pakar Qur’an menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah amalan orang lain bukanlah amalan milik kita. Yang jadi milik kita adalah amalan kita sendiri. Adapun jika amalan orang lain diniatkan untuk lainnya sebagai pengganti, maka itu akan bermanfaat. Sebagaimana bermanfaat do’a dan sedekah dari saudara kita (yang diniatkan untuk kita) tatkala kita telah meninggal dunia. Begitu pula jika haji dan puasa sebagai gantian untuk orang lain, maka itu akan bermanfaat.

 

Bagaimana Cara Menghajikan Orang Lain?

Syarat menghajikan orang lain itu antara lain:

  • Yang menghajikan harus sudah pernah berhaji
  • Hanya boleh menghajikan untuk 1 orang saja
  • Yang dihajikan adalah orang yang dianggap sakit dan secara medis tidak mampu mengerjakan haji atau tidak bisa diharapkan kesembuhannya (seperti sakit jantung, HIV dll)

 

Bolehkan Saya Membayar Seseorang Untuk menghajikan Orang tua saya ataupun kakek nenek?

Seorang anak disunnahkan menghajikan orang tuanya yang telah meninggal atau tidak mampu lagi secara fisik.  Dalam sebuah hadist Rasulullah berkata kepada Abu Razin:

"Berhajilah untuk ayahmu dan berumrahlah.”

Dalam riwayat Jabir dikatakan:

"Barang siapa menghajikan ayahnya atau ibunya, maka ia telah menggugurkan kewajiban haji keduanya dan ia mendapatkan keutamaan sepuluh haji.”

Dalam riwayat Ibnu Abbas mengatakan:

"Barangsiapa melaksanakan haji untuk kedua orang tuanya atau membayar hutangnya, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat nanti bersama orang-orang yang dibebaskan" (HR. Daruquthni).

Bahkan bagai seorang anak dianggap wajib menghajikan orang tuanya, jika semasa hidupnya sudah mampu secara finansial berhaji. Jika orang tuanya, semasa hidupnya miskin, sedangkan anaknya dianggap mampu secara finansial, sunnah menghajikan orang tuanya kareNa dianggap bakti kepada orang tua. Dan hal ini diperintahkan baik dalam Al-Qu’ran ataupun dalam hadist-hadist.

 

Apa Boleh Saya Membayar Orang Lain Untuk Menghajikan orang Lain?

Boleh dan hal ini dianggap sah, lagipula syarat menghajikan orang lain ini haruslah orang yang sudah berhaji. Jadi biasanya yang mengerjakannya harus yang sudah sering pergi haji.

 

Hati-hati Menyewa Untuk Badal Haji !!!

Banyak praktek sekarang ini, orang menghajikan untuk banyak orang lain. Artinya dia menerima sejumlah bayaran dari beberapa orang untuk men BADAL HAJI beberapa orang dalam satu waktu haji. Hal ini tidak sah dan orang yang mengerjakaanya dosa. Karena tidak sesuai dengan prinsip syariat islam

 

Jadi Yang Baik Bagaimana?

Baiknya mencari orang yang dianggap soleh, bagus agamanya. Karena sangat berpengaruh pula kepada nilai haji yang dihajikan.

 

Berapa Harga Badal haji ?

Harganya beragam dan paling murah sekitar 9 jutaan atau lebih, tergantung kesepakatan.  Tapi mohon dipertimbangkan jangan sampai menawar seperti membeli sepatu. Bahkan banyak terjadi ada yang membayar badal haji hanya berkisar 3 jutaan. Dan akhirnya disanggupi seseorang, kemudian di kerjakan dengan sembrono, tidak baik.  Karena jika yang mengerjakan seorang santri, orang yang baik agamannya, tentunya akan dilakukan dengan baik sesuai Sunnah Nabi Saw.

 

Kok Harus Bayar Segala? Kenapa Nggak Ikhlas Aja Sihh..?

Harga ONH regular saja berkisar Rp 33 jutaan, dengan daftar tunggu yang panjang pula, dan pengerjaan haji pun membutuhkan fisik dan stamina yang prima dan membutuhkan biaya pula untuk akomodasi, makan, minum. Transport dsb. Jadi pantaskan jika membayar seseorang ? sesuai dengan kesulitanya.  Atau boleh saja Anda menghajikan orang tua Anda, berarti Anda harus ber haji ke 2 kalinya, kemudian ke-3 kalinya dan seterusnya..

 

Berapa Badal Haji & Kemana Harus Membayar Badal Haji?

Harga BADAL HAJI di AMANI TOUR Rp 9.000.000 dan bagi yang berminat silahkan hubungi kami.

 

Tentang Boleh nya Dalil Umroh

Jumhur ulama (mayoritasulama) mengatakan boleh mengumrohkan orang lain dengan dalil yang disebutkan di atas. Karena logisnya haji saja boleh atau bisa di badalkan apalagi umroh. Namun karena dalil menunjukan kepada ibadah haji karena haji merupakan rukun Islam.

 

Ust. Ackman Lc. M.Si

 
Sumber Referensi

- Fatawa Ulama Min Balad al-Haram. DR. Khalid Ibn Abdurahman (Malik Fahd. Cet. VIII. 1429 H)

- Muhammad bin Ali Syaukani, , Nail al-Authar, (Beirut: Dar Fikr, 1421 H/ 2000 M, Cet. I)

- Muhammad bin Solih Al-Utsaimin, , Fatawa Arkan al-Islam, (Riyadh: Dar Tsuraya, 1462 H, Cet. II)

- Ibnu, Qudâmah, al-Mughnî, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustaphâ al-Bâz, 1997)
- Prof. DR, Wahbah Az- Zuhaylî, , Al-Fiqh al-Islamiy wa Adilatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989)

 

433366
Amani Tour

Copyright © 2013. All Rights Reserved.