Get Adobe Flash player

 

BEGINILAH BERHAJI

 Dalam sejarahnya Nabi saw hanya sekali  mengerjakan haji setelah hijrahnya ke Madinah, yang dikenal dengan nama Haji Wada Dalam kesempatan itu, beliau mengajarkan pentingnya mengikuti tata cara haji yang diajarkanya seperti yang disabdakannya: “Ambilah dariku tata cara haji kalian.” Meskipun saat ini situasi dan kondisi sudah jauh berbeda yang berdampak banyaknya perubahan dalam tata cara manasik itu sendiri, namun pelajaran berharga dari sang pendidik agung menjadi inspirasi bagi kita semua bagi yang berhaji maupun yang berumrah.

 

Hari Tarwiyah

Tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah, sehari sebelum wuquf) jamaah pergi menuju Mina. Bagi haji qiran atau ifrad masih dalam keadaan ihram ketika pergi Mina. Sedangkan bagi haji Tammatu berihram kembali dengan semua kesunahannya seperti yang telah dijelaskan di atas. Hendaknya shalat zhuhur, ashar, maghrib, isya (8 Dzulhijjah) dan subuh (tanggal 9 Dzulhijjah) semuanya dilakukan di Mina dengan cara qashar tanpa di jamak dan dilakukan berjamaah. Bermalam pada hari tarwiyah hukumnya Sunnah dan bukan termasuk rukun atau wajib, bila ditinggalkan tidak mengapa, tapi sangat dianjurkan untuk melaksanakannya.

 

Wuquf Di Arafah

Wuquf berarti diam, hadir dan berada pada bagian manapun dari Arafah, walau seseorang itu dalam keadaan tidur, terjaga, duduk di kendaraan atau di tempat lainnya, berbaring, berjalan, baik dalam keadaan suci dari hadast ataupun tidak misalnya yang sedang haid, nifas maupun junub. Wuquf di Arafah merupakan rukun terpenting haji dan tidak sempurna haji seseorang tanpa melaksanakan wuquf seperti yang ditegaskan Rasullah Saw: “Haji itu (wuquf di) Arafah”.

Waktu Wuquf

Waktu untuk wuquf dimulai sejak tergelincir matahari tanggal 9 Dzuhilhijjah (waktu dzhuhur) sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Dan wuquf dianggap sah bila seseorang hadir di Arafah pada salah satu bagian dari waktu tersebut, baik siang maupun malam. Hanya saja bagi yang memulai wuquf dari siang hari (setelah zhuhur), maka wajib memperpanjang wuquf sampai terbenam matahari. Bagi yang berwuquf di Arafah dalam batas waktu yang ditentukan, berarti telah mendapatkan hajinya, sedangkan yang tidak melaksanakan wuquf di Arafah, maka batal hajinya.

 

Sunnah-Sunnah Wuquf

Mandi sebelum wuquf dan masuk ke Arafah ketika tergelincir matahari, setelah terlebih dahulu shalat Zhuhur dan Ashar dengan di jamak taqdim dan qashar.

  • Imam berkhutbah terlebih dahulu sebelum shalat jamak taqdim dan di qashar, sesudah itu berwuquf
  • Menghadap kiblat dalam keadaan bersih dan menutup aurat
  • Tidak berpuasa
  • Memusatkan pikiran, menghadirkan hati dan perasaan, khusuk, rendah diri sambil bersungguh-sungguh meminta ampun, dzikir, memperbanyak doa, membaca Al Qur-an baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring sambil mengangkat kedua tangan.
  • Berwuquf semenjak waktu zawal sampai tergelincir matahari.
  • Mengakhirkan shalat maghrib dan isya dengan cara jamak ta’khir di Musdalifah.

 
Mabit (bermalam) Di Musdalifah

Mabit di Musdalifah adalah wajib menurut mayoritas pendapat dan bukan rukun, sehingga yang meninggalkan mabit di Musdalifah dikenakan dam. Batasan mabit yang dibolehkan hanya melewati saja atau diam sebentar sampai lewat tengah malam. Tidak disunahkan dalam keadaan suci ketika mabit di Musdalifah dan dianjurkan terus membaca talbiyah, takbir dan tahlil.

 

Sunah-Sunah Wuquf Di Musdalifah

    1. Mandi namun bila tidak menemukan air maka tayamum. Mandi disini karena akan wuquf di Masy’aril Haram dan karena akan memasuki hari raya kesekon harinya.
    2. Menjamak isya dan maghrib dengan cara men-jamak ta’khir dengan dua kali adzan, baik dilakukan sendiri maupun dengan jamaah.
    3. Memperbanyak ibadah seperti berdoa, membaca Al Qur-an, dzikir dan lainnya
    4. Mencari kerikil setelah lewat tengah malam untuk persiapan melempar Jumrah Aqabah dan di hari tasyriq..Salat subuh di awal waktu dan bertakbir dengan suara keras melebihi bertakbir pada hari-hari lain karena mengikuti amalan Nabi Saw.
    5. Berwuquf setelah salat fajar di Masy’aril Haram (sebuah daerah di Musdalifah) sambil menghadap kiblat.
    6. Mendahulukan wanita dan yang lemah lainnya pergi ke mina sebelum fajar agar cepat melempar jumrah Aqabah sebelum tempat ini menjadi ramai. Selain mereka tetap berwuquf sampai menjalankan salat subuh di Musdalifah.

 

Melempar Jumrah

Melontar jumrah hukumnya wajib, dan yang meninggalkannya harus membayar Dam. Ukuran batu yang dipakai untuk jumrah adalah batu kerikil sebesar biji kacang atau sebesar ruas jari kelingking dan tidak boleh dengan besi, tembaga atau dengan yang lainnya. Batu diambil di Musdalifah atau Mina dan hindari memungut batu di sekitar tempat Jumrah. Dimakruhkan memecah batu dan boleh mencuci batu kerikil berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, bahwasannya beliau mencuci batu kerikil.

 

Mewakilkan Lemparan

Boleh mewakilkan lemparan bagi yang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, orang tua atau yang sedang hamil. Mewakilkan ini boleh pada siapa saja dan hendaknya k yang mewakili tersebut melempar dulu bagi dirinya sendiri.

 

Jumlah Batu

Bagi Nafar awwal mengambil 49 batu dan bagi yang mengambil nafar tsani 70 batu, tetapi disarankan mengambil   lebih.

 Yang mengambil nafar awwal mengambil 49 batu:

  •  7 (tujuh) batu untuk melontar jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah).
  • 21 batu (11 Dzulhijah) untuk melontar tiga jumrah, yaitu jumrah ula, wustha dan aqabah.
  • 21 batu (12 Dzulhijjah) untuk melontar tiga jumrah

Yang mengambil nafar tsani memungut 70 batu:

  •  7 (tujuh) batu untuk melontar jumrah Aqabah di hari Nahar (10 Dzulhijjah).
  • 21 batu (11 Dzulhijah) untuk melontar ketiga jumrah
  • 21 batu (12 Dzulhijah) untuk melontar 3 jumrah.
  • 21 batu (13 Dzulhijah) untuk melontar 3 jumrah.

 

Waktu Melempar

Melempar Jumrah Aqabah pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) bisa dilakukan mulai tengah malam, sedangkan waktu yang utama adalah setelah waktu zhuhur. Talbiyah dihentikan ketika mulai melempar Jumrah Aqabah. Sedangkan waktu yang utama untuk melempar jumrah pada hari-hari tasyriq setelah waktu zhuhur hingga waktu fajar. Akan tetapi waktu pagi lebih baik berhubung menjaga keselamatan lebih penting dari pada hanya mengejar pahala sunnah.

 

Nafar Awwal Dan Nafar Tsani

Nafar Awal yaitu bagi yang melontar jumrah hanya dua hari saja (tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah), dan kembali ke Mekah pada tanggal 12 Dzulhijjah sebelum tenggelam matahari dan tidak melontar pada keesokan harinya (tanggal 13 Dzulhijjah). Sedangkan nafar tsani yaitu bagi yang melempar sampai tanggal 13 Dzulhijjah dan kembali ke Mekah pada tanggal ini. Kedua macam perbuatan diatas dibolehkan dan bebas memilih salah satunya

 

Menyembelih Kurban

Ada dua macam penyembelihan kurban, yaitu:

  • Hadyu: ialah menyembelih hewan kurban yang disembelih karena taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dalam ibadah haji dan hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan).
  • Dam:menyembelih kurban karena melanggar salah satu larangan ihram baik sengaja atau tidak yang terbagi dua:

Dam Nusuk, yaitu dam bagi haji tamattu dan qiran

Dam Isa-ah, yaitu dam bagi yang meninggalkan:

Salah satu wajib haji seperti tidak melempar jumrah, tidak berihram dari miqat, wuquf yang tidak sampai malam hari, meninggalkan mabit di musdalifah dan Mina atau meninggalkan thawaf wada. Karena melanggar larangan ihram selain dari hubungan suami istri contohnya memakai minyak wangi atau memotong atau mencukur rambut sebelum waktunya.

Sesudah melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah) bagi mampu hendaknya menyembelih hewan kurban.

 

Tahallul

Sesudah menyembelih kurban maka ber-tahallul dengan mencukur rambut atau bergunting. Mulailah mencukur rambut pada bagian kanan kepala. Bagi wanita hanya menggunting beberapa lembar rambut sepanjang ujung jari pada bagian kanan kepala dan bukan mencukur. Dengan tahallul ini (tahallul awwal) maka halal kembali yang tadinya dilarang kecuali berhubungan badan, dan boleh menggunakan kembali pakaian biasa dan sebagainya.

 

Tawaf Ifadhah

Kemudian melakukan thawaf Ifadhah ke Mekah (bila memungkinkan) dengan mengelilingi kabah tujuh putaran dan sai seperti yang telah dijelaskan diatas dan seperti halnya ketika berumrah tanpa mengenakan pakaian ihram. Dengan selesainya thawaf Ifadhah ini, halal kembali semuanya dan bagi yang tidak mampu boleh menangguhkan thawaf Ifadhah selama hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) atau sesudahnya asalkan masih dilakukan pada bulan Dzulhijjah.

 

Perhatian

Jika urutan amalan itu tidak beraturan, misalnya mendahulukan thawaf Ifadhah kemudian melempar jumrah aqabah sesudahnya, melempar jumrah aqabah kemudian thawaf Ifadhah ataupun menggunting terlebih dahulu sebelum menyembelih qurban ataupun sebaliknya tidaklah mengapa, karena perbuatan tersebut dibolehkan semuanya.

 

Mabit (bermalam) Di Mina

Mabit di Mina hukumnya wajib menurut pendapat mayoritas ulama dan bagi yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan syara maka diharuskan membayar Dam. Mahdzab asy-Syafi’i sendiri mengharuskan mabit di seluruh malamnya. Dikecualikan bagi orang mempunyai udzur yang dibolehkan syara boleh meninggalkan mabit tanpa membayar dam.

 

Melepar Jumrah di Hari Tasyriq

Pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah jamaah haji melempar ketiga jumrah yang dimulai dari jumrah ula, kemudian jumrah wustha dan terakhir jumrah aqabah. Masing-masing melempar dengan tujuh batu. Setiap selesai melempar jumrah ula dan wustha disunahkan berdoa namun setelah lemparan jumrah aqabah tidak disunahkan berdoa. Waktu melempar di hari tasyriq dilakukan sejak pagi hari hingga waktu fajar dengan limit waktu 24 jam penuh. Bagi yang mengambil nafat awwal lemparan cukup dua hari saja (11 dan 12 Dzulhijjah) dan keluar dari mina sebelum matahari tenggelam. Sedangkan yang mengambil nafar tsani, mengenapkan lemparan hingga tanggal 13 Dzulhijjah dan keluar dari Mina sebelum matahari tenggelam

 

Tawaf Wada

Bagi laki-laki di wajibkan melakukan thawaf wada. Berwudlu terlebih dahulu kemudian thawaf 7h putaran tanpa Raml, Sai atau Tahallul. Diteruskan salat dua rakaat di Maqam Ibrahim, dan berdoa di Multazam. Wanita yang haid dan nifas, boleh meninggalkan thawaf wada dan tidak dikenakan dam atau kafarat.

Ust. Ackmanz Lc

 

 Referensi

  • Juzayri, Abdul Rahman, 1990, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-‘Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Mundziri, Abdul ‘Adzim, 1992, Tahdzib at-Targhib wa at-Tarhib. (Beirut: Darul Jail)
  • Nawawi, Muhyidin, tt, al-Majmu Syarh al-Muhaddzab, (Beirut: Darul Fikri)
  • _________________ al-Adzkar (Beirut: Dar al-Fikr)
  • _________________ Syarh Muslim, (Beirut: Dar Kutub ‘Ilmiyyah)
  • Rawah, Abdul Fattah, 2003, Kitab al-Idhah Fi Manasik al-Hajj wa al-Umrah, Cetakan Kelima, (Mekkah: Maktab al-Imdadiyyah)
  •  Sabiq, Sayyid, 1992, Fiqh as-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Qudamah, Ibnu, 1997, al-Mughni, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustapha al-Baz)
  • Qari, Mula ‘Ali, 1998, Irsyad asy-Syari, Cetakan Pertama, (Mekkah: ‘Abbas Ahmad al-Baz)
  • Zuhayli, Wahbah, 1989, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu (Beirut: Dar al-Fikr)

 

 

 


 

  

BEGINILAH BER-UMRAH

Sebelum Anda berumrah ada beberapa amalan penting yang tidak boleh dilupakan. Dan amalan ini merupakan penyempurna ibadah Umroh itu sendiri, karena peroleh Mabrur atau MAqbul dalam Umroh itu terkait dengan amalan sebelum berangkat. Karena tidak mungkin bahwa Mabrur, soleh ataupun takwa itu sendiri diperoleh hanya dalam waktu 1 minggu saja tanpa persiapan lahir batin di tanah air.

 

Persiapan Di Tanah Air

Persiapan Dhohir

  • Bertobat dari segala dosa dan maksiat, baik dosa kepada Allah Swt, yaitu pelanggaran dari segala larangan-Nya dan keengganan melaksanakan perintahNya, maupun dosa kepada sesama manusia.
  • Meminta izin orang tua atau yang dituakannya.
  • Membayar segala utang, mengembalikan harta yang diperoleh dengan cara zhalim (korupsi) dan aniaya (merampas hak orang lain).
  • Dana yang digunakan benar-benar halal dan bersih.
  • Menyiapkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan.
  • Banyak bersedekah kepada dhuafa, fakir dan miskin.
  • Carilah kawan seperjalanan yang saleh, yang baik, senang menolong, sering mengingatkan jika lupa, suka menegur jika ada kesalahan, memotivasi kepada keteguhan dan kesabaran.
  • Sebelum berangkat, berpamitan kepada teman, tetangga dan saudara lainya yang berdekatan. Meminta restu mereka, dan mendoakan untuk mereka

 

Persiapan Batin

  • Niat dan tujuan semata-mata karena Allah Swt, dan bukan untuk mencari kemasyhuran dan gelar.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Meninggalkan rafats (ucapan kotor; tidak berguna), fusûq (maksiat, keluar dari ketaatan kepada Allah Swt), dan jidâl (berbantahan, bertengkar dll)
  • Rendah hati, lemah-lembut, mengutamakan kebaikan, budi pekerti yang baik. Tidak menyakiti orang lain, husnu zhan (berbaik sangka), sabar dan tabah dalam menghadapi perbuatan yang tidak menyenangkan dan menyakitkan
  • Ikhlas dalam segala ucapan dan perbuatan. Tidak memperhitungkan segala apa yang telah dikeluarkan untuk menyempurnakan ibadah haji maupun umrah
  • Ikhlas dan sabar dalam menghadapi musibah atau kerugian yang menimpa fisik dan harta. Sebab segala musibah dan kerugian yang diterima secara ikhlas, termasuk kebaikan berpahala di sisi Allah Swt


Berangkat

Salat sunat Safar (bepergian) dua rakaat dengan membaca Fatihah dan al-Kafirun di rakaat pertama dan Fatihah dan al-Ikhlas di rakaat kedua. Boleh membaca Ayat Kursi1 atau Surat al-Quraisy dan satu kali sebelum keluar rumah atau doa lainnya yang dihafal dan disukai.

Berdoa bagi keluarga maupun teman yang ditinggalkan

Ketika naik kendaraan atau pesawat terbang bacalah doa

Bismillah

Setelah duduk membaca lagi:

Alhamdulillah

Diteruskan dengan membaca:

Subhânaladzî sakhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahû muqrinîn wa innâ ilâ robbinâ lamunqolibûn

“Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami (padahal) kami tidak sanggup mengendalikannya. sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah.” (QS. Al-Zukhruf: 14)

Diteruskan dengan membaca: Allahu Akbar 3 x Atau membaca: Subhânaka innî dzolamtu nafsî faghfir lî innahû lâ yaghfiru dzunûb illâ anta

“Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku menganiaya diriku sendiri (maka) ampuni aku karena tidak ada (yang) bisa mengampuni kecuali Engkau.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasaî dengan sanad sahih)

  • Selalu dalam keadaan berwudlu dan shalat berjamaah
  • Banyaklah berbuat kebaikan dalam perjalanan selain sabar  dan tawakal kepada Allah Swt
  • Berdoalah di setiap kesempatan dalam perjalanan karena doa yang sedang bepergian mustajab sebagaimana disebutkan dalam hadist:

“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan: doa orang yang dizhalimi, doa orang yang sedang bepergian, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi)

 

 


 

TATA CARA UMRAH

 

Melaksanakan Sunat-Sunat Ihram

  • Sebelum ihram rapikan kuku, rambut, jenggot, kumis, bulu ketiak dan bulu lainnya. Kemudian mandi (membasahi badan dari kepala sampai kaki), menyela-nyela jari tangan dan kaki, kemudian berwudhu.
  • Selanjutnya mengenakan pakaian ihram. Bagi pria yang satu disebut Rida (kain bagian atas) dan Izzar (kain bagian bawah).
  • Pakaian ihram untuk wanita sama halnya dengan pakaian ketika shalat. Yaitu jilbab yang harus menutupi seluruh rambut (rambut tidak boleh terlihat). Baju harus menutupi dada. Tidak boleh memakai pakain tipis hingga terlihat rambut atau kulit, selain telapak muka dan telapak tangan. Kaki memakai kaos kaki/stoking.
  • Sebelum niat boleh memakai wewangian, body lotion, parfum dan lainnya. Namun tidak boleh dilakukan sesudah niat.
  • Bila salat wajib didirikan, kerjakan salat sunat ihram setelahnya, atau boleh menjadikan salat wajib itu penganti salat sunat ihram.


Perhatian

Shalat sunnat ini tidak diniatkan untuk ihram, tapi berniat mengerjakan shalat sunnat yang disebabkan satu sebab. Misalnya shalat dhuha, shalat hajat, tahiyatul masjid dll. Yang bermiqat di Madinah sebaiknya mengerjakan semua sunah ihram di hotel.

Setelah berpakaian ihram, salat sunat dan niat dilakukan di Bir Ali.

 

Ihram Umrah

Ihram umrah adalah niat untuk melaksanakan umrah kemudian diikuti dengan Talbiyah. Ihram umrah ini merupakan tanda telah masuknya rangkaian ibadah umrah dengan diharamkannya melakukan segala sesuatu selama melalaksanakan umrah sebagaimana takbiratul ihram dalam shalat.

Niat untuk umrah antara lain:  Labbaika Allâhuma Umratan

“Aku taati panggilan-Mu untuk melakukan umrah”

Setelah niat tidak boleh melanggar larangan ihram. Tidak boleh berkata buruk, mengunjing, bertengkar, berdebat yang tidak bermanfaat dan larangan lainnya untuk menjaga kesempurnaan umrah. Banyaklah membaca talbiyah:

Labaîk allâhumma labaîk, labaîk lâ syarîka laka labaîk, innal hamda wan ni’mata laka wal mulku, lâ syarîka laka

“Aku penuhi seruan-Mu Ya Allah, aku penuhi seruan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan seluruh kerajaan milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.” Setelah berulang kali membaca talbiyah diselingi shalawat:

Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ muhammad wa ‘alâ Ali muhammad

“Ya Allah limpahkan kesejahteraan dan keselematan kepada Muhammad dan keluarganya.”

Kemudian bacalah doa yang disukai, misalnya doa:

Allâhumma inna nas-aluka ridhâka wal jannah wa naûdzubika min sakhatika wannâr.

Ya Allah kami meminta ridha-Mu dan surgaMu. Kami berlindung dari kemarahan dan api neraka.”

 

Masuk ke Masjidil Haram

Ketika masuk masjid dahulukan kaki kanan dengan membaca: Allahumaftah lî abwâba rohmatika

“Ya Allah bukakan bagiku semua pintu RahmatMu.”

Kemudian berjalan dengan tenang dan khusuk sambil membaca talbiyah.

Ketika melihat Kabah berdoa sambil mengangkat kedua tangan:

Allahumma zid hâdzal baita tasyrîfan wa ta’dzîman wa takrîman wa mahabatan wa zid man syarrafahu wa karamahu mimman hajjahu wa’tamarahu tasyrîfan wa ta’dzîman wa takrîman wa birran

“Ya Allah tambahlah kehormatan, kebesaran, kemuliaan dan kemegahan rumah ini. Tambahkan pula kehormatan, kebesaran, kemuliaan dan kebaikan bagi yang telah menghormati dan memuliakan rumahMu dari orang yang berhaji dan umrah.” (HR. Syafi’i) dan lainnya)

Setelah itu berdoalah menurut keinginan anda.

 

Memulai Tawaf

Ketika hendak tawaf benarkan letak baju ihram menjadi Idhthiba. Yaitu ujung baju ihram bagian kanan disimpan di pundak sebelah kiri. Mulailah tawaf dengan berjalan cepat (raml) di tiga putaran pertama sambil idhtihba di seluruh putaran. Dan bacalah doa diatas setiap kali Isyarah (melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad) .

Ketika raml bacalah doa ini:

Allâhumaj’alhû hajjan mabrûran wa dzanban maghfûran wa sa’yan masykûran

“Ya Allah jadikan aku haji yang mabrur, dosa yang diampuni dan sai yang diampuni.” (HR. Syafi’i)

 

Perhatian

  • Raml (berjalan cepat) di 3 putaran pertama tawaf hanya disunahkan ketika pertama kali tawaf umrah dalam satu pejalanan. Dan tidak disunahkan pada tawaf sesudahnya. Bila tidak mampu maka berusaha semampunya ber-raml. Bila tidak sanggup juga berjalanlah biasa. Raml hanya disunahkan bagi laki-laki.
  • Idhtiba disunahkan dalam setiap tawaf untuk umrah.
  • Tidak ada doa khusus dalam setiap putaran tawaf. Bacalah doa yang dikuasai.
  • Doa dalam Al-Qur’an dan Hadist lebih diutamakan.

Selesai raml pada 3 putaran pertama mulai mulai berjalan biasa pada empat putaran akhir.  Pada putaran selanjutnya bacalah:

Allâhumaghfir warham wa’fu ‘amma ta’lam wa antal a’azul akrom, Allâhuma robbanâ âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah wa qinâ adzabanâr

“Ya Allah rahmati dan ampunilah aku dari dosa yang Engkau ketahui, karena Engkau Maha Besar dan Mulia. Ya Allah berilah akukebaikan dunia dan akhirat, bebaskan aku dari api neraka.”

Selama tawaf bacalah dzikir dan doa pilihan anda atau membaca doa ini:

Subhânallahi wal hamdulillâhi wa lâ illâha illallah wallâhu akbar wa lâ haula wa lâ quwwata illa billâhi

“Maha Suci Allah, Segala puji bagiNya dan tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar dan tidak ada daya upaya kecuali dari Allah.” (HR. Ibnu Majah)

 

Rukun Yamani

Di Rukun Yamani (sudut yang berdampingan dengan Hajar Aswad) isyarah (tangan diarahkan) dengan tangan kanan tanpa mencium tangan sesudahnya. Antara Rukun Yamani dengan Hajar Aswad bacalah doa:

Allâhumma rabbanâ âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah wa qinâ adzabannâr

“Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan selamatkan kami dari api neraka.”

 

Salat di Maqam Ibrahim

Selesai tawaf kemudian menuju maqam Ibrahim sambil membaca:

Wattakidzû min maqâmi ibrâhîma mushollâ

Dan Jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim tempat salat.”

Pakaian yang tadinya idhthiba dilepas dan selimutkan ke badan kemudian salat sunnat dua raka’at. Rakaat pertama membaca Fatihah dan al-Kafirun, rakaat kedua membaca fatihah dan al-Ikhlas. Sesudah salat bacalah menurut keinginan anda.

 

Perhatian

  • Tidak ada doa khusus dalam setiap putaran tawaf kecuali hanya beberapa doa yang telah disebutkan diatas. Anda boleh membaca doa sendiri atau dengan bahasa yang anda kuasai.
  • Tidak disunahkan mengusap, mencium atau menempelkan benda untuk mengambil berkah karena hal ini tidak diajarkan Nabi saw.
  • Mencium Hajar Aswad adalah sunah sedangkan menghormati sesama Muslim wajib hukumnya, maka jangan mengejar pahala sunah namun berakibat dosa.
  • Jangan paksakan mencium Hajar Aswad bila keadaan penuh sesak. Bila keadaan penuh sesak dan tidak memungkinkan raml, berjalan biasa atau tetap raml semampunya.
  • Jangan paksakan salat yang berhadapan langsung dengan maqam Ibrahim bila penuh sesak, carilah tempat kosong. Kemudian Istilam (bila memungkinkan) ke arah Hajar Aswad sambil berdoa di Multazam (bila memungkinkan) atau cukup berdoa di tempat anda berada.
  • Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim, maka hindari mengusap, mencium untuk mengharap berkah. Ingat! Jangan rusak ibadah anda dengan perbuatan yang tidak ada tuntunannya.
  • Ketika umrah berikutnya dalam tawaf hanya berjalan biasa tanpa raml maupun idhtiba.

 

Minum Air Zam-zam

Sebelum Sai disunahkan minum air Zam-Zam sambil menghadap Kabah. Ketika minum, bernafas 3 kali kemudian sisa air minum diusapkan ke kepala, muka dan dada.

 

Sai

Sebelum ke shafa letakan kembali pakain dengan cara idhthiba’ (bagi laki-laki) dan ketika mendekat shafabacalah:

Innash-shofâ wal marwata min sya’â-irillâhi, Abda-u bimâ bada Allâh bihi

“Sesungguhanya Shafa dan Marwah sebagian dari syiar Allah. Aku mulai dengan apa yang dimulai Allah.”

Ketika sampai di Shafa menghadap Kabah dengan mengangkat kedua tangan sambil membaca:

Allahu Akbar 3 x

Lâ ilâha illallahu wahdahu lâ syarîka lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyî wa yumîtu wa huwa ‘alâ kulli syai-in qadîir, Lâ ilâhi illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nasharo ’abdahu wahazamal ahzâba wahdahu

“Tidak ada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu bagiNya, milik-Nya semua kerajaan dan pujian. Ia yang menghidupkan dan yang mematikan, Ia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Allah, ditepati janji-Nya, dibela hambaNya dan dikalahkan semua musuh olehNya.”

Bacalah doa ini 3 x kemudian mulai berjalan untuk Sai.

Bagi laki-laki ketika berada diantara dua lampu hijau berjalan cepat (raml) sambil membaca:

Rabbighfir warham wa tajâwaz ‘amma ta’lam innaka antal a’azul akrom, Allâhumma âtina fiddunyâ hasanah wa fil âkhiroti hasanah wa qinâ adzabannâr

“Ya Allah ampuni aku, hapuskan segala dosa yang Engkau ketahui, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Besar. Ya Allah berilah aku kebaikan dunia akhirat dan selamatkan aku dari api neraka.”

Selesai Raml berjalan biasa lagi hingga di Marwah. Ketika sampai di Mawah menghadap kiblat sambil bertakbir dan berdoa seperti di permulaan Sai. Kemudian mulai berjalan kearah Shafa dan be-raml ketika melewati dua lampu hijau.

Sai dilakukan tujuh putaran, antara Shafa dan Marwah dihitung satu putaran dan begitu pula sebaliknya dan sai akan berakhir di Marwah.

 

Tahallul

Selesai Sai kemudian Tahallul dengan menggunting atau mencukur rambut sedangkan bagi wanita hanya mengunting beberapa helai rambut sepanjang ruas jari saja. Ketika mencukur rambut mulailah mencukurnya pada bagian sebelah kanan kepala dan berdoa:

 Allâhummaghfir lil muhalliqîna wa lil muqoshirîn

 Ya Allah, ampunilah orang yang bercukur dan yang bergunting.”

Mengunting atau memotong rambut boleh dilakukan oleh siapa saja, anak kecil ke orang tua atau sebaliknya, istri kepada suaminya atau sebaliknya. Hendaknya wanita dipotong oleh muhrimnya. Anda menjadi halal kembali dan selesailah umrah anda.

 

Bermîqât Dari Tan’îm atau Ji’ranah

Selama berada di Mekah dianjurkan untuk memperbanyak umrah.

Sebaiknya semua kesunahan ihrâm dilakukan di hotel termasuk mandi dan berpakaian ihrâm. Sampai mîqât hanya salat sunnah ihrâm dan berniat kemudian kembali lagi ke Masjidil Haramuntuk Tawâf, saî dan tahallul. Umrah ini tidak disunahkan Raml ketika tawâf.

 

Tawaf Wada’ Bagi Yang Berumah

Bagi yang berumrah selain di bulan haji, ketika akan meninggalkan kota Mekkah disunahkan melakukan Thawaf Wada. Caranya seperti melakukan Thawaf Sunnah.Sunnahnya diakhiri dengan shalat sunnat thawaf setelah 7 kali thawaf. Bagi wanita yang berhalangan (haid, nifas dll) tidak disarankan thawaf wada’ dan cukup berdoa di pintu Masjid al-Haram.

Ust. Ackmanz Lc

 

Daftar Pustaka

  • Juzayrî, Abdul Rahman, 1990, Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Khiyari, Ahmad, 1993, Tarîkh al-Ma’alim al-Madînah al Munawwarah Qadîman wa Hadîtsan (Jeddah, Dar al-‘Ilm)
  • Khurbûthulî, Ali,tt, Tarîkh Ka’bah, (Beirut: Dar al- Jail)
  • Mubarakfurî, Shafiyyurahmân. 2002, Tarikh Makkah al- Mukarramah, (Riyadh: Dar as-Salam)
  • Mundzirî, Abdul ‘Adzîm, 1992, Tahdzîb at-Targhîb wa at- Tarhîb. (Beirut: Darul Jail)
  • Nawawî, Muhyidîn, tt, al-Majmû Syarh al-Muhaddzab, (Beirut: Darul Fikri)
  • _________________ al-Adzkâr (Beirut: Dar al-Fikr)
  • _________________ Syarh Muslim, (Beirut: Dar Kutub ‘Ilmiyyah)
  • Râwah, Abdul Fattâh, 2003, Kitâb al-Îdhâh Fî Manâsik al-Hajj wa al-Umrah, Cetakan Kelima, (Mekkah: Maktab al- Imdâdiyyah)
  • Rousydy, Latif, 1989, Manasik Haji dan Umrah Rasulullah s.a.w (Medan: Rimbow)
  • Sâbiq, Sayyid, 1992, Fiqh as-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Qudâmah, Ibnu, 1997, al-Mughnî, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustaphâ al-Bâz)
  • Qârî, Mulâ ‘Alî, 1998, Irsyad asy-Syârî, Cetakan Pertama, (Mekkah: ‘Abbâs Ahmad al-Bâz)
  • Zuhaylî, Wahbah, 1989, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu (Beirut: Dar al-Fikr)

 


  

 

 


 

TANYA JAWAB BADAL HAJI

 

Badal haji adalah melaksanakan ibadah haji atas nama orang lain, baik bapaknya, ibunya, saudara nya ataupun orang lain karena ada halangan tertentu dari yang digantikan. Baik yang dihajikan itu sudah tua dan tidak memungkinkan berhaji atau sudah meninggal.

Apa Hukumnya Badal Haji?

Hal ini bisa dilihat dalam 2 keadaan, yaitu: bila yang dihajikan sudah meninggal, dan semasa hidupnya dia dianggap sudah mampu mengerjakan haji, maka wajib menghajikannya bagi ahli warisnya, meskipun si mayit tidak berwasiat untuk menghajikannya. Karena Haji merupakan salah satu rukun Islam yang harus dikerjalan bila sudah mampu secara finansial. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt:

“Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]” (QS. Ali Imran: 97)

Adapun dalil-dalil tentang bolehnya menghajikan orang lain, baik yang dihajikan itu sakit (sehingga tidak mampu mengerjakannya) atau yang dihajikan sudah wafat, antara lain:

Wahai Rasulullah ayahku telah wajib Haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan apakah boleh aku melakukan ibadah haji untuknya?" Jawab Rasulullah "Ya, berhajilah untuknya" (HR. Bukhari Muslim).

Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah Saw. Dan bertanya "Wahai Rasulullah!, Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya?. Rasulullah menjawab "Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi" (HR. Bukhari, Nasa'i).

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata "Ayahku meninggal, padahal dipundaknya ada tanggungan haji Islam, apakah aku harus melakukannya untuknya? Rasulullah menjawab "Apakah kalau ayahmu meninggal dan punya tanggungan hutang kamu juga wajib membayarnya ? "Iya" jawabnya. Rasulullah berkata :"Berahjilah untuknya". (HR. Daruquthni)

 

Apakah Tentang Badal Haji ini bertentangan Dengan Ayat Al-Qur’an ? Bahwa amal seseorang tidak bisa memikul ala atau dosa orang lain?

Jawabannya cukup dengan jawaban Alm. Syeikh Bin Baz rahimullah, mantan ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia. Beliau berfatwa:

Adapun firman Allah Swt:  “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An Najm: 39).  

Ayat ini bukanlah bermakna seseorang tidak mendapatkan manfaat dari amalan atau usaha orang lain. Ulama tafsir dan pakar Qur’an menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah amalan orang lain bukanlah amalan milik kita. Yang jadi milik kita adalah amalan kita sendiri. Adapun jika amalan orang lain diniatkan untuk lainnya sebagai pengganti, maka itu akan bermanfaat. Sebagaimana bermanfaat do’a dan sedekah dari saudara kita (yang diniatkan untuk kita) tatkala kita telah meninggal dunia. Begitu pula jika haji dan puasa sebagai gantian untuk orang lain, maka itu akan bermanfaat.

Bagaimana Cara Menghajikan Orang Lain?

Syarat menghajikan orang lain itu antara lain:

  • Yang menghajikan harus sudah pernah berhaji
  • Hanya boleh menghajikan untuk 1 orang saja
  • Yang dihajikan adalah orang yang dianggap sakit dan secara medis tidak mampu mengerjakan haji atau tidak bisa diharapkan kesembuhannya (seperti sakit jantung, HIV dsb)


Bolehkan Membayar Seseorang Untuk menghajikan Orang tua atau kakek nenek?
Seorang anak disunnahkan menghajikan orang tuanya yang telah meninggal atau tidak mampu lagi secara fisik. dalam sebuah hadist Rasulullah berkata kepada Abu Razi: "Berhajilah untuk ayahmu dan berumrahlah."

Dalam riwayat Jabir dikatakan "Barang siapa menghajikan ayahnya atau ibunya, maka ia telah menggugurkan kewajiban haji keduanya dan ia mendapatkan keutamaan sepuluh haji."

Riwayat Ibnu Abbas mengatakan "Barangsiapa melaksanakan haji untuk kedua orang tuanya atau membayar hutangnya, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat nanti bersama orang-orang yang dibebaskan." (HR. Daruquthni).

Bahkan bagai seorang anak dianggap wajib menghajikan orang tuanya, jika semasa hidupnya sudah mampu secara finansial berhaji. Jika orang tuanya, semasa hidupnya miskin, sedangkan anaknya dianggap mampu secara finansial, sunnah menghajikan orang tuanya kareNa dianggap bakti kepada orang tua. Dan hal ini diperintahkan baik dalam Al-Qu’ran ataupun dalam hadist-hadist.

 

Apa Boleh Saya Membayar Orang Lain Untuk Menghajikan orang Lain? Atau Bagaimana Menghajikan Orang Lain Sedangkan Saya Belum Haji? Atau Bagaimana Menghajikan Orang tua saya sedangkan daftar tunggu masih lama?

Boleh dan hal ini dianggap sah, lagipula syarat menghajikan orang lain ini haruslah orang yang sudah berhaji. Jadi biasanya yang mengerjakannya harus yang sudah sering pergi haji.

Hati-hati Menyewa Untuk badal haji

Banyak praktek sekarang ini, orang menghajikan untuk banyak orang lain. Artinya dia menerima sejumlah bayaran dari beberapa orang untuk men BADAL HAJI beberapa orang dalam satu waktu haji. Hal ini tidak sah dan orang yang mengerjakaanya dosa. Karena tidak sesuai dengan prinsip syariat islam

Jadi Yang Baik Bagaimana?

Baiknya mencari orang yang dianggap soleh, bagus agamanya. Karena sangat berpengaruh pula kepada nilai haji yang dihajikan.

Berapa Kisaran Harga Badal haji ?

Harganya beragam dan paling murah sekitar 5 sampai 8 jutaan atau lebih, tergantung kesepakatan.
Tapi mohon dipertimbangkan jangan sampai menawar seperti membeli sepatu. Bahkan banyak terjadi ada yang membayar badal haji hanya berkisar 3 jutaan. Dan akhirnya disanggupi seseorang, kemudian di kerjakan dengan sembrono, tidak baik.
Karena jika yang mengerjakan seorang santri, orang yang baik agamannya, tentunya akan dilakukan dengan baik sesuai Sunnah Nabi Saw.

Kok Harus Bayar Segala? Kenapa Nggak Ikhlas Aja Sihh

Harga ONH regular saja berkisar Rp 33 jutaan, dengan daftar tunggu yang panjang pula, dan pengerjaan haji pun membutuhkan fisik dan stamina yang prima. Jadi pantaskan jika membayar seseorang ? Sedangkan ketika praktek haji saja membutuhkan biaya untuk transport, makan dsb.Dan tentunya ada harga yang harus dibayar. Atau boleh saja Anda menghajikan orang tua, berarti harus ber haji ke ke-2 kalinya, kemudian ke-3 kalinya dan seterusnya..

 

Kemana Saya Harus Membayar Badal Haji?

Bagi yang berminat silahkan hubungi kami, Insya Allah kami akan senang sekali membantu

Ust. Ackmanz Lc

 

 

449567
Amani Tour

Copyright © 2013. All Rights Reserved.