Melempar Jumrah

Melontar jumrah hukumnya wajib, dan yang meninggalkannya harus membayar Dam. Ukuran batu yang dipakai untuk jumrah adalah batu kerikil sebesar biji kacang atau sebesar ruas jari kelingking dan tidak boleh dengan besi, tembaga atau dengan yang lainnya. Batu diambil di Musdalifah atau Mina dan hindari memungut batu di sekitar tempat Jumrah. Dimakruhkan memecah batu dan boleh mencuci batu kerikil berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, bahwasannya beliau mencuci batu kerikil.

Mewakilkan Lemparan

Boleh mewakilkan lemparan bagi yang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, orang tua atau yang sedang hamil. Mewakilkan ini boleh pada siapa saja dan hendaknya k yang mewakili tersebut melempar dulu bagi dirinya sendiri.

Jumlah Batu

Bagi Nafar awwal mengambil 49 batu dan bagi yang mengambil nafar tsanî 70 batu, tetapi disarankan mengambil   lebih.

Yang mengambil nafar awwal mengambil 49 batu:

  • 7 (tujuh) batu untuk melontar jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah).
  • 21 batu (11 Dzulhijah) untuk melontar tiga jumrah, yaitu jumrah ula, wustha dan aqabah.
  • 21 batu (12 Dzulhijjah) untuk melontar tiga jumrah

Yang mengambil nafar tsanî memungut 70 batu:

  • 7 (tujuh) batu untuk melontar jumrah Aqabah di hari Nahar (10 Dzulhijjah).
  • 21 batu (11 Dzulhijah) untuk melontar ketiga jumrah
  • 21 batu (12 Dzulhijah) untuk melontar 3 jumrah.
  • 21 batu (13 Dzulhijah) untuk melontar 3 jumrah.

 

Waktu Melempar

Melempar Jumrah Aqabah pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) bisa dilakukan mulai tengah malam, sedangkan waktu yang utama adalah setelah waktu zhuhur. Talbiyah dihentikan ketika mulai melempar Jumrah Aqabah. Sedangkan waktu yang utama untuk melempar jumrah pada hari-hari tasyrîq setelah waktu zhuhur hingga waktu fajar. Akan tetapi waktu pagi lebih baik berhubung menjaga keselamatan lebih penting dari pada hanya mengejar pahala sunnah

Nafar Awwal Dan Nafar Tsanî

Nafar Awal yaitu bagi yang melontar jumrah hanya dua hari saja (tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah), dan kembali ke Mekah pada tanggal 12 Dzulhijjah sebelum tenggelam matahari dan tidak melontar pada keesokan harinya (tanggal 13 Dzulhijjah). Sedangkan nafar tsanî yaitu bagi yang melempar sampai tanggal 13 Dzulhijjah dan kembali ke Mekah pada tanggal ini. Kedua macam perbuatan diatas dibolehkan dan bebas memilih salah satunya

Menyembelih Kurban

Ada dua macam penyembelihan kurban, yaitu:

Hadyu: ialah menyembelih hewan kurban yang disembelih karena taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dalam ibadah haji dan hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan).

Dam: menyembelih kurban karena melanggar salah satu larangan ihram baik sengaja atau tidak yang terbagi dua:

Dam Nusuk, yaitu dam bagi haji tamattu dan qiran

Dam Isa-ah, yaitu dam bagi yang meninggalkan:

  1. Salah satu wajib haji seperti tidak melempar jumrah, tidak berihram dari mîqat, wuquf yang tidak sampai malam hari, meninggalkan mabît di musdalifah dan Mina atau meninggalkan thawaf wada.
  2. Karena melanggar larangan ihram selain dari hubungan suami istri contohnya memakai minyak wangi atau memotong atau mencukur rambut sebelum waktunya.

Sesudah melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah) bagi mampu hendaknya menyembelih hewan kurban.

Tahallul

Sesudah menyembelih kurban maka ber-tahallul dengan mencukur rambut atau bergunting. Mulailah mencukur rambut pada bagian kanan kepala. Bagi wanita hanya menggunting beberapa lembar rambut sepanjang ujung jari pada bagian kanan kepala dan bukan mencukur. Dengan tahallul ini (tahallul awwal) maka halal kembali yang tadinya dilarang kecuali berhubungan badan, dan boleh menggunakan kembali pakaian biasa dan sebagainya.

Tawaf Ifadhah

Kemudian melakukan thawaf Ifadhah ke Mekah (bila memungkinkan) dengan mengelilingi kabah tujuh putaran dan saî seperti yang telah dijelaskan diatas dan seperti halnya ketika berumrah tanpa mengenakan pakaian ihram. Dengan selesaînya thawaf Ifadhah ini, halal kembali semuanya dan bagi yang tidak mampu boleh menangguhkan thawaf Ifadhah selama hari tasyrîq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) atau sesudahnya asalkan masih dilakukan pada bulan Dzulhijjah.

Perhatian

Jika urutan amalan itu tidak beraturan, misalnya mendahulukan thawaf Ifadhah kemudian melempar jumrah aqabah sesudahnya, melempar jumrah aqabah kemudian thawaf Ifadhah ataupun menggunting terlebih dahulu sebelum menyembelih qurban ataupun sebaliknya tidaklah mengapa, karena perbuatan tersebut dibolehkan semuanya.

Mabît (bermalam) Di Mina

Mabît di Mina hukumnya wajib menurut pendapat mayoritas ulama dan bagi yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan syara maka diharuskan membayar Dam. Mahdzab asy-Syafi’i sendiri mengharuskan mabît di seluruh malamnya. Dikecualikan bagi orang mempunyai udzur yang dibolehkan syara boleh meninggalkan mabît tanpa membayar dam.

Melepar Jumrah di Hari Tasyrîq

Pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah jamaah haji melempar ketiga jumrah yang dimulai dari jumrah ula, kemudian jumrah wustha dan terakhir jumrah aqabah. Masing-masing melempar dengan tujuh batu. Setiap selesai melempar jumrah ula dan wustha disunahkan berdoa namun setelah lemparan jumrah aqabah tidak disunahkan berdoa. Waktu melempar di hari tasyrîq dilakukan sejak pagi hari hingga waktu fajar dengan limit waktu 24 jam penuh. Bagi yang mengambil nafat awwal lemparan cukup dua hari saja (11 dan 12 Dzulhijjah) dan keluar dari mina sebelum matahari tenggelam. Sedangkan yang mengambil nafar tsanî, mengenapkan lemparan hingga tanggal 13 Dzulhijjah dan keluar dari Mina sebelum matahari tenggelam

Tawaf Wada

Bagi laki-laki di wajibkan melakukan thawaf wada. Berwudlu terlebih dahulu kemudian thawaf 7h putaran tanpa Raml, Saî atau Tahallul. Diteruskan salat dua rakaat di Maqam Ibrahim, dan berdoa di Multazam. Wanita yang haid dan nifas, boleh meninggalkan thawaf wada dan tidak dikenakan dam atau kafarat.

Ust. Ackmanz Lc

Referensi

  • Juzayrî, Abdul Rahman, 1990, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-‘Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Khiyari, Ahmad, 1993, Tarîkh al-Ma’alim al-Madînah al-Munawwarah Qadîman wa Hadîtsan (Jeddah, Dar al-‘Ilm)
  • Khurbuthulî, Ali, tt, Tarîkh Ka’bah, (Beirut: Dar al- Jail)
  • Mubarakfurî, Shafiyyurahman. 2002, Tarikh Makkah al-Mukarramah, (Riyadh: Dar as-Salam)
  • Mundzirî, Abdul ‘Adzîm, 1992, Tahdzîb at-Targhîb wa at-Tarhîb. (Beirut: Darul Jail)
  • Nawawî, Muhyidîn, tt, al-Majmu Syarh al-Muhaddzab, (Beirut: Darul Fikri)
  • _________________ al-Adzkar (Beirut: Dar al-Fikr)
  • _________________ Syarh Muslim, (Beirut: Dar Kutub ‘Ilmiyyah)
  • Rawah, Abdul Fattah, 2003, Kitab al-Îdhah Fî Manasik al-Hajj wa al-Umrah, Cetakan Kelima, (Mekkah: Maktab al-Imdadiyyah)
  • Rousydy, Latif, 1989, Manasik Haji dan Umrah Rasulullah s.a.w (Medan: Rimbow)
  • Sabiq, Sayyid, 1992, Fiqh as-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Shihab, Quraish, 2003, Haji bersama M. Quraish Shihab (Bandung: Mizan)
  • Qudamah, Ibnu, 1997, al-Mughnî, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustapha al-Baz)
  • Qarî, Mula ‘Alî, 1998, Irsyad asy-Syarî, Cetakan Pertama, (Mekkah: ‘Abbas Ahmad al-Baz)
  • Zuhaylî, Wahbah, 1989, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu (Beirut: Dar al-Fikr