Dalam sejarahnya Nabi saw hanya sekali mengerjakan haji setelah hijrahnya ke Madinah, yang dikenal dengan nama Haji Wada Dalam kesempatan itu, beliau mengajarkan pentingnya mengikuti tata cara haji yang diajarkanya seperti yang disabdakannya: “Ambilah dariku tata cara haji kalian.” Meskipun saat ini situasi dan kondisi sudah jauh berbeda yang berdampak banyaknya perubahan dalam tata cara manasik itu sendiri, namun pelajaran berharga dari sang pendidik agung menjadi inspirasi bagi kita semua bagi yang berhaji maupun yang berumrah.

Hari Tarwiyah

Tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah, sehari sebelum wuquf) jamaah pergi menuju Mina. Bagi haji qiran atau ifrad masih dalam keadaan ihram ketika pergi Mina. Sedangkan bagi haji Tammatu berihram kembali dengan semua kesunahannya seperti yang telah dijelaskan di atas. Hendaknya shalat zhuhur, ashar, maghrib, isya (8 Dzulhijjah) dan subuh (tanggal 9 Dzulhijjah) semuanya dilakukan di Mina dengan cara qashar tanpa di jamak dan dilakukan berjamaah. Bermalam pada hari tarwiyah hukumnya Sunnah dan bukan termasuk rukun atau wajib, bila ditinggalkan tidak mengapa, tapi sangat dianjurkan untuk melaksanakannya.

Wuquf Di Arafah

Wuquf berarti diam, hadir dan berada pada bagian manapun dari Arafah, walau seseorang itu dalam keadaan tidur, terjaga, duduk di kendaraan atau di tempat lainnya, berbaring, berjalan, baik dalam keadaan suci dari hadast ataupun tidak misalnya yang sedang haid, nifas maupun junub.

Wuquf di Arafah merupakan rukun terpenting haji dan tidak sempurna haji seseorang tanpa melaksanakan wuquf seperti yang ditegaskan Rasullah Saw:

“Haji itu (wuquf di) Arafah”.

Waktu Wuquf

Waktu untuk wuquf dimulai sejak tergelincir matahari tanggal 9 Dzuhilhijjah (waktu dzhuhur) sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Dan wuquf dianggap sah bila seseorang hadir di Arafah pada salah satu bagian dari waktu tersebut, baik siang maupun malam. Hanya saja bagi yang memulai wuquf dari siang hari (setelah zhuhur), maka wajib memperpanjang wuquf sampai terbenam matahari. Bagi yang berwuquf di Arafah dalam batas waktu yang ditentukan, berarti telah mendapatkan hajinya, sedangkan yang tidak melaksanakan wuquf di Arafah, maka batal hajinya.

 

Sunnah-Sunnah Wuquf

  • Mandi sebelum wuqufMasuk ke Arafah ketika tergelincir matahari, setelah terlebih dahulu shalat Zhuhur dan Ashar dengan di     jamak taqdîm dan qashar.
  • Imam berkhutbah terlebih dahulu sebelum shalat jamak taqdim dan di qashar, sesudah itu berwuquf
  • Menghadap kiblat dalam keadaan bersih dan menutup aurat
  • Tidak berpuasa
  • Memusatkan pikiran, menghadirkan hati dan perasaan, khusuk, rendah diri sambil bersungguh-sungguh meminta ampun, dzikir, memperbanyak doa, membaca Al Qur-an baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring sambil mengangkat kedua tangan.
  • Berwuquf semenjak waktu zawal sampai tergelincir matahari.
  • Mengakhirkan shalat maghrib dan isya dengan cara jamak ta’khîr di Musdalifah.

Mabît (bermalam) Di Musdalifah

Mabît di Musdalifah adalah wajib menurut mayoritas pendapat dan bukan rukun, sehingga yang meninggalkan mabît di Musdalifah dikenakan dam. Batasan mabît yang dibolehkan hanya melewati saja atau diam sebentar sampai lewat tengah malam. Tidak disunahkan dalam keadaan suci ketika mabît di Musdalifah dan dianjurkan terus membaca talbiyah, takbir dan tahlil.

Sunah-Sunah Wuquf Di Musdalifah

  • Mandi namun bila tidak menemukan air maka tayamum. Mandi disini karena akan wuquf di Masy’aril Haram dan karena akan memasuki hari raya kesekon harinya.
  • Menjamak isya dan maghrib dengan cara men-jamak ta’khîr dengan dua kali adzan, baik dilakukan sendiri    maupun dengan jamaah.
  • Memperbanyak ibadah seperti berdoa, membaca Al Qur-an, dzikir dan lainnya
  • Mencari kerikil setelah lewat tengah malam untuk persiapan melempar Jumrah Aqabah dan di hari tasyrîq..Salat subuh di awal waktu dan bertakbir dengan suara keras melebihi bertakbir pada hari-hari lain karena mengikuti amalan Nabi Saw.
  • Berwuquf setelah salat fajar di Masy’aril Haram (sebuah daerah di Musdalifah) sambil menghadap kiblat.
  • Mendahulukan wanita dan yang lemah lainnya pergi ke mina sebelum fajar agar cepat melempar jumrah Aqabah sebelum tempat ini menjadi ramai. Selain mereka tetap berwuquf sampai menjalankan salat subuh di Musdalifah.